Jumat, 23 Oktober 2015

BUKU-BUKU HAMKA

DAFTAR BUKU HAMKA

  1. TASAWUF MODREN
  2. FALSAFAH HIDUP
  3. LEMBAGA BUDI
  4. LEMBAGA HIDUP
  5. ADAT DAN MINANGKABAU
  6. TAFSIR AL-AZHAR
  7. STUDI ISLAM
  8. PANDANGAN HIDUP MUSLIM
  9. AYAH

PENDIDIKAN ISLAM DALAM KELUARGA MENURUT HAMKA

BAB I
PENDAHULUAN

A.    Latar Belakang Masalah
Pendidikan adalah suatu proses dan sistem yang bermuara dan berujung pada pencapaian suatu kualitas tertentu yang dianggap dan diyakini paling ideal. kualitas hasil pendidikan generasi mendatang tergantung bagaimana pendidikan itu diberikan saat ini.
Pendidikan pada umumnya dan khususnya pendidikan Islam, tujuannya tidaklah sekedar proses alih budaya atau ilmu pengetahuan (transfer of knowledge) tetapi juga proses pentransferan seperangkat pengetahuan yang dianugrahkan oleh Allah kepada manusia.[1] Dengan kekuatan yang dimilikinya, baik kekuatan pancaindera maupun akal.[2] Tujuan pendidikan Islam menjadikan manusia yang bertaqwa, manusia yang dapat mencapai al-falah, kesuksesan hidup yang abadi, dunia dan akhirat (muflihun).[3]
Pendidikan Islam berbeda dengan pendidikan barat sekuler, terutama karena pendidikan Islam tidak hanya didasarkan atas hasil pemikiran manusia dalam mencapai kemaslahatan umum atau humanisme universal namun dasar pokok pendidikan Islam adalah al-Qur'an dan al-Hadis.
Al-quran sebagai dasar pokok pendidikan Islam di dalamnya terkandung sumber nilai yang absolut, yang eksistensinya tidak mengalami perubahan walaupun interpretasi (penafsirannya) mengalami penyesuaian sesuai dengan konteks zaman, keadaan dan tempat.[4]
Dewasa ini dunia pendidikan modern yang didominasi oleh karakter pendidikan barat menawarkan berbagai konsep pendidikan yang sarat teori psikologi dan filsafat pendidikan. Namun konsep-konsep yang ditawarkan itu tidak mampu melahirkan manusia yang sadar akan tugas dan tujuan hidupnya. Lewat prinsip dan metode pendidikannya, Islam menawarkan jalan keluar sehingga lahirlah generasi yang siap mengarungi dan memaknai kehidupan. Yang istemewa, Islam menjadikan keluarga, sekolah dan masyarakat sebagai mitra dalam pembinaan dan pendidikan anak.
Keluarga, sekolah dan masyarakat merupakan pusat pendidikan, tapi keluargalah yang memberikan pengaruh pertama kali, keluarga merupakan pusat pendidikan yang paling berpengaruh dibandingkan yang lainnya, karena seorang anak pun masuk Islam sejak awal kehidupannya, dan dalam keluargalah ditanamkan benih-benih pendidikan. demikian pula waktu yang dihabiskan seorang anak di rumah lebih banyak dibandingkan waktu yang dihabiskan ditempat lain, dan kedua orang tua merupakan figur yang paling berpengaruh terhadap anak.
Orang tua adalah pendidik alami, orang tua mempunyai hubungan batin dan rasa cinta alami dengan anaknya, berhubung dengan itu, keluarga sebagai tempat, lingkungan  dan masyarakat primer hidupnya orang tua beserta anak-anaknya disebut sebagai pusat pendidikan pertama.
Pendidik pertama dan utama adalah orang tua sendiri yang bertanggung jawab atas kemajuan perkembangan anak kandungnya. Karena sukses anaknya merupakan sukses orang tuanya juga.[5] Sebagaiman firman Allah SWT berikut ini :
$pkšr'¯»tƒ tûïÏ%©!$# (#qãZtB#uä (#þqè% ö/ä3|¡àÿRr& ö/ä3Î=÷dr&ur #Y$tR $ydߊqè%ur â¨$¨Z9$# äou$yfÏtø:$#ur $pköŽn=tæ îps3Í´¯»n=tB ÔâŸxÏî ׊#yÏ© žw tbqÝÁ÷ètƒ ©!$# !$tB öNèdttBr& tbqè=yèøÿtƒur $tB tbrâsD÷sムÇÏÈ

Artinya: Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, keras, dan tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan. (QS. At-Tahrim, 66:6)[6]

Ayat tersebut menjelaskan pentingnya untuk menjaga atau membentengi diri dan keluarga dari api neraka, orang tua berkewajiban memberikan pendidikan yang bisa menyelamatkan anaknya dari api neraka yaitu pendidikan agama dan juga di iringi dengan pengetahuan lainnya. Dalam melaksanakannya orang tua hendaknya bersifat arif dan bijaksana dalam membimbing dan mengarahkan anak-anaknya. Tugas lainnya  adalah memberikan contoh yang baik, menasehati, membimbing serta mengontrol sehingga anak berkembang sesuai dengan ajaran agama.[7]
Orang tua yang sadar akan tanggung jawab terhadap pendidikan anaknya, mereka akan memberikan bimbingan, pengarahan dan pembinaan terhadap anaknya sedini mungkin. Pendidikan bukan hanya proses alih ilmu pengetahuan namun juga alih nilai-nilai atau bukan sekedar transformasi namun juga internalisasi nilai, merupakan tantangan yang berat bagi kalangan pendidik. Karena proses alih nilai-nilai (pendidikan nilai) orientasinya pada ranah efektif. Pendidikan nilai dapat dilakukan dalam bentuk prilaku-prilaku atau tingkahlaku yang menunjukkan nilai-nilai yang diinginkan. Dari prilaku-prilaku itulah pendidikan nilai bisa dipahami.
Pendidikan Islam sangat memperhatikan keseimbangan dan keserasian antara dua kepentingan hidup (dunia dan akhirat), sehingga pendidikan Islam tidak mengkotakkan diri dalam pendidikan kerohanian saja, namun pendidikan kejasmanian pun dalam perhatiannya.
Dewasa ini, masih banyak pendidik dalam hal ini orang tua yang kurang memperhatikan pendidikan rohani-spiritual anak, mereka lebih menekankan pendidikan jasmani-material, dalam anggapan mereka pendidikan yang bersifat jasmani-material inilah yang akan menjawab dan menentukan masa depannya.
Setelah diketahui pentingnya pendidikan spritual dan material dalam keseimbangan dan harus diperhatikan sedini mungkin yaitu sejak dalam lingkungan keluarga tentunya sesuai kronologis-psikologis anak, yang menjadi pertanyaan sekarang adalah pendidikan nilai apa saja yang harus diberikan kepada anak.
Didunia pendidikan banyak tokoh-tokoh Islam yang mengemukakan pemikirannya tentang pendidikan, Muhamad Abduh menetapkan tujuan, pendididkan Islam yang di rumuskan sendiri yakni: Mendidik jiwa dan akal serta menyampaikannya kepada batas-batas kemungkinan seseorang dapat mencapai kebahagian hidup di dunia dan akhirat.[8] Hasan Langgulung ketika membicarakan tujuan pendidikan Islam, menurutnya pendidikan Islamharus mengakomodasikan tiga fungsi atau nilai agama yaitu fungsi spritual yang berkaitan dengan akidah dan iman, fungsi psikologis yang berkaitan dengan tingkah laku individual yang temasuk dalam akhlak, yang mampu mengangkat derajat yang lebih sempurna dan fungsi sosial, yang berkaitan dengan aturan yang menghubungkan manusia dengan lainnya atau masyarakat, dimana masing-masing mempunyai hak-hak dan tanggung jawabnya untuk menyusun masyarakat yang harmonis dan seimbang.[9] Sedangkan tujuan pendidikan Islam menurut Hamka adalah mengenal dan mencari keridhaan Allah, membangun budi pekerti untuk berakhlak mulia, serta mempersiapkan peserta didik untuk hidup secara layak dan berguna di tengah-tengah komunitas sosialnya.[10]
Pandangan Hamka             ini memberikan makna, bahwa secara substansial pendidikan Islam tidak hanya bertujuan mencetak ulama. Akan tetapi pendidikan Islam itu berkaitan dengan akhlak, pengakuan masyarakat dan aktivitas kehidupan kekinian. Oleh karena itu, tujuan pendidikan Islam  sesungguhnya lebih berorientasi pada transinternalisasi ilmu kepada peserta didik agar mereka menjadi insan yang berkualitas, baik dalam aspek keagamaan maupun sosial.
Dari uraian di atas, dapat diketahui bahwa pemikiran Hamka tentang tujuan dan konsep pendidikan Islam, secara umum berangkat dari keinginan untuk mengharmonisasikan sistem pendidikan tradisional dan modern (umum).
Hamka adalah salah satu tokoh pendidikan, dia menentang sikap taqlid menurutnya sikap taqlid adalah musuh kemerdekaan berpikir. Orang yang bertaqlid kata hamka adalah orang yang percaya dengan membabi tuli apa yang dikatakan orang lain atau yang diterima dari guru. Keadaan seperti ini menurutnya akan menimbulkan kebekuan berpikir, padahal dengan membiasakan berpikir akan menjaga kesehatan jiwa, dan menjauhkan kita dari sifat malas.[11] Sikap menolak taqlid inilah kemudian membuat hamka menjadi pemikir bebas yang tidak terikat pada salah satu mazhab manapun dalam Islam.[12]
Hamka berpendapat bahwa, konsep kemampuan manusia adalah potret manusia yang dinamis, bukan manusia yang fatalis, manusia yang kreatif, bukan manusia yang fasif, manusia yang tidak mau menyerah kepada keadaan, manusia yang liat dan ulet menghadapi dunia dengan segala ujiannya, manusia yang bersikap progresif  dan inovatif, tetapi juga manusia yang ikhlasmenerima pemberian-Nya sambil bertawakkal kepada-Nya.[13]

Hamka memberikan rambu-rambu bagi kedua orang tua bagaimana cara melaksanakan pendidikan terhadap anak, yaitu:
1.      Biasakan anak cepat bangun dan jangan terlalu banyak tidur. Sebab, dengan banyak tidur akan membuat anak malas beraktivitas, malas berpikir dan lamban berkreasi.
2.      Tanamkan pendidikan akhlak yang mulia dan hidup sederhana sedini mungkin. Sebab bila tidak , maka akan sulit untuk mengubah sikap yang telah mengkristal tersebut kepada sebuah kebaikan.
3.      Melalui cerita-cerita yang menekankan cinta kasih, ajarkan kepada mereka pentingnya kehidupan yang harmonis.
4.      Biasakan anak untuk percaya diri dan tidak menggantungkan diri dengan orang lain, memiliki kemerdekaan dalam menegeluarkan pendapat, serta bertanggung jawab terhadap keputusan yang diambilnya. Setidaknya, ada dua pendekatan Islam untuk mananamkan kepercayaan diri, yaitu melalui tauhid dan melaului takdir. Mempercayai tiada kekuatan dan ketentuan yang lebih final selain aturan Allah. Tidak ada satu makhluk pun yang patut ditakuti, kecuali Allah. Tumbuhnya kepercayaan pada diri anak akan menimbulkan daya gerak dan daya pikir secara merdeka.[14]
Pandangan Hamka di atas, merupakan reaksi dari pelaksanaan pendidikan yang dilakukan kebanyakan orang tua waktu itu, pada umumnya anak tidak memiliki kebebasan untuk mengeluarkan pendapat dihadapan orang tuanya, maupun dalam menentukan kehendak gerak hati sesuai dengan cita-citanya. Kedua orang tua seakan berkuasa penuh dalam menentukan masa depan anak-anaknya.
Menurut Hamka, model pemikiran umat terutama kedua orang tua yang demikian seyogianya dihilangkan. Kedua oang tua hendaknya memiliki visi baru tentang pendidikan anak-anaknya, memberikan kebebasan (kemerdekaan) berpikir kepada anak untuk berkembang sesuai dengan potensi yang dimilikinya. Seorang anak hendaknya didik dan diasuh menurut bakat, kemampuan, seta sesuai dengan tuntunan sosial dan perkembangan zamannya. Di sini, kedudukan dan fungsi orang tua bukan membentuk anak sesuai dengan keinginannya akan tetapi menuntun dan mengontrol agar kebebasan dan dinamika potensi yang dimiliki anak mampu terealisasi secara maksimal, sesuai dengan  nilai-nilai ajaran agamanya.[15]
Maka dari itu dalam penelitian ini penulis akan mencoba membahas tentang nilai-nilai pendidikan Islam dalam keluarga menurut hamka yang diwujudkan dalam bentuk skripsi dengan judul “Nilai-Nilai Pendidikan Islam Dalam Keluarga Menurut Hamka”.



[1]Hamka, Tafsir Al-Azhar, Juz 1 (Jakarta : Pustaka Panjimas, 1998 ), h.156
[2]Ibid, h.157
[3]A. Syafi'i Ma'arif, Pendidikan Islam Indonesia, antara Cita dan Fakta, (Yogyakarta : Tiara Wacana Yogya, 1991), h.43
[4]Didin Saefudin, Pemikiran Modern dan Postmodern Islam : Biografi Intelektual 17 Tokoh, (Jakarta: PT. Grasindo, 2003), h.1
[5] Muhaimin dan Abdul Mujid, Pemikiran Pendidikan Islam Kajian Filosofistik dan Kerangka Dasar Operasionalisasinya, (Bandung : Trigenda Karya, 1993 ), h.168
[6]Departemen Agama RI, al-Qur’an dan terjemahnya, Al-Jumanatul ‘Ali, (CV.Penerbit J-ART, 2004),  h.560
[7] Samsul Nizar, Memperbincangkan Dinamika Intelektual dan Pemikiran Hamka tentang Pendidikan Islam, (kencana, Jakarta, 2008), h. 143.
[8]http://teratakhijau11.blogspot.com/2013/07/perbandingan-pemikiran-habdul-malik.html
Di unduh pada tanggal 06/01/2015 di Simpang Empat
[9] Hasan Langgulung, Beberapa Pemikiran Pendidikan Islam, ( Bandung : PT. Al-Ma'arif, 1980), h.178
[10] Samsul Nizar, op.cit, h. 117
[11]Hamka, Tasauf Modern, (Jakarta: PT.Pustaka Panjimas, 1990), h.140
[12] Yunan Yusuf, Corak Pemikiran Kalam Tafsir al-Azhar, (Jakarta : Pustaka Panjimas, 1990 ), h. 175
[13]Ibid, h. xxv
[14]Samsul Nizar, op.cit, h. 144
[15] Ibid, h.145