Jumat, 23 Oktober 2015

BIOGRAFI HAMKA

BAB II
BIOGRAFI HAMKA


A.   
Sepintas Tentang Hamka
Haji Abdul Malik Karim Amrullah atau lebih dikenal dengan julukan Hamka, yakni singkatan namanya, ia lahir di Sungai Batang, Maninjau, Sumatera Barat, pada hari Ahad tanggal 16 Februari 1908 M bertepatan dengan tanggal 13 Muharram 1326 H.[1] Lahir dari pasangan Haji Abdul Karim Amrullah lebih dikenal dengan nama Haji Rasul dan Shafiyah Tanjung, sebuah keluarga yang taat beragama. Ayahnya adalah seorang ulama besar dan pembawa paham-paham pembaruan Islam di Minangkabau. Ia meninggal pada tanggal  24 Juli 1981 di Rumah Sakit Pertamina Jakarta dalam usia 73 tahun.[2]
Sebelum mengenyam pendidikan di sekolah, Hamka tinggal bersama neneknya di sebuah rumah di dekat Danau Maninjau. Ketika berusia enam tahun, ia pindah bersama ayahnya ke Padang Panjang.[3] Sebagaimana umumnya anak-anak laki-laki di Minangkabau, sewaktu kecil ia belajar mengaji dan tidur di surau yang berada di sekitar tempat ia tinggal, sebab anak laki-laki Minang memang tak punya tempat di rumah. Di surau, ia belajar mengaji dan silek, sementara di luar itu, ia suka mendengarkan kaba, kisah-kisah yang dinyanyikan dengan alat-alat musik tradisional Minangkabau.[4] Pergaulannya dengan tukang-tukang kaba, memberikannya pengetahuan tentang seni bercerita dan mengolah kata-kata. Kelak melalui novel-novelnya, Hamka sering mencomot kosakata dan istilah-istilah Minangkabau. Seperti halnya sastrawan yang lahir di ranah Minang, pantun dan petatah-petitih menjadi bumbu dalam karya-karyanya.
Pada tahun 1914, setelah usianya genap tujuh tahun, ia dimasukkan ke sebuah Sekolah Desa dan belajar ilmu pengetahuan umum seperti berhitung dan membaca di sekolah tersebut.[5] Pada masa-masa itu, sebagaimana diakui oleh Hamka, merupakan zaman yang seindah-indahnya pada dirinya. Pagi ia bergegas pergi ke sekolah supaya dapat bermain sebelum pelajaran dimulai, kemudian sepulang sekolah bermain-main lagi, bermain galah, bergelut, dan berkejar-kejaran, seperti anak-anak lainnya bermain.[6] Ia juga sangat senang nonton film, bahkan karena hobinya ini, ia pernah “mengicuh” guru ngajinya karena ingin menonton Eddie Polo dan Marie Walcamp. Kebiasaannya menonton film berlanjut terus ketika di Medan umpamanya, tiap film yang berputar terus diikutinya, melalui film-film itu kerapkali ia mendapat inspirasi untuk mengarang.[7]
Ketika usianya mencapai 10 tahun, ayahnya mendirikan Sumatera Thawalib di Padang Panjang. Di situ Hamka kemudian mempelajari agama dan mendalami bahasa Arab, salah satu pelajaran yang paling disukainya.[8] Saat itu, ia juga belajar di Diniyah School setiap pagi, sementara sorenya belajar di Thawalib dan malamnya kembali ke surau. Demikian kegiatan Hamka kecil setiap hari, sesuatu yang sebagaimana diakuinya tidak menyenangkan dan mengekang kebebasan masa kanak-kanaknya.
Saat berusia 12 tahun, kedua orang tuanya bercerai. Hal ini berakibat terhadap perkembangan kejiwaannya. Hamka merasa kurang mendapatkan kasih sayang yang sewajarnya dari kedua orang tuanya. Apalagi ibunya pun kemudian menikah lagi dengan orang lain. Perceraian itu juga mengakibatkan keretakan hubungan keluarga besar ayah-ibunya.[9]
Hamka yang kemudian mengikuti ayahnya pindah ke Padang Panjang, harus menghadapi cemoohan dari keluarga ayahnya sendiri. Menurut adat Minang, seorang anak lelaki dianggap tidak pantas tinggal bersama ayahnya yang tidak lagi beristrikan ibu kandungnya. Sebaliknya, untuk tinggal bersama ibunya pun Hamka tidak merasa nyaman, karena ada bapak tiri. Beruntung neneknya begitu menyayangi Hamka sejak bocah itu dilahirkan. Hamka pun tinggal dan lebih banyak menghabiskan masa kecil bersama Neneknya.
Kondisi Hamka menimbulkan kekhawatiran yang mendalam pada ayahnya, sebab seperti diutarakan sebelumnya, dia adalah tumpuan harapan Haji Rasul untuk melanjutkan kepemimpinan umat. Haji Rasul pun mengirim Hamka belajar pada Syeikh Ibrahim Musa di Parabek, lima kilometer dari Bukittinggi. Saat itulah minat baca Hamka mulai nampak. Ia rajin menyimak karya-karya sastra baik yang berbahasa Melayu maupun bahasa Arab. Kegemarannya membaca serta mengembara sambil menikmati sekaligus mengagumi keindahan panorama alam Minangkabau yang memiliki bukit-bukit, gunung-gunung dan danau ditambah lingkungan keluarga yang taat beragama, telah menjadi dasar pertama bagi pertumbuhan jiwa seorang Abdul Malik di masa mudanya.[10]
Secara formal, pendidikan yang ditempuh Hamka tidaklah tinggi. Pada usia 8-15 tahun, ia mulai belajar agama di sekolah Diniyyah School dan Sumatera Thawalib di Padang Panjang dan Parabek. Di antara gurunya adalah Syekh Ibrahim Musa Parabek, Engku Mudo Abdul Hamid, Sutan Marajo dan Zainuddin Labay el-Yunusy. Keadaan Padang Panjang pada saat itu ramai dengan penuntut ilmu agama Islam, di bawah pimpinan ayahnya sendiri.
Pelaksanaan pendidikan waktu itu masih bersifat tradisional dengan menggunakan sistim halaqah. Pada tahun 1916, sistim klasikal baru diperkenalkan di Sumatera Thawalib Jembatan Besi. Hanya saja, pada saat itu sistim klasikal yang diperkenalkan belum memiliki bangku, meja, kapur dan papan tulis. Materi pendidikan masih berorientasi pada pengajian kitab-kitab klasik, seperti nahwu, sharaf, manthiq, bayan, fiqh, dan yang sejenisnya. Pendekatan pendidikan dilakukan dengan menekankan pada aspek hafalan. Pada waktu itu, sistim hafalan merupakan cara yang paling efektif bagi pelaksanaan pendidikan. Meskipun kepadanya diajarkan membaca dan menulis huruf arab dan latin, akan tetapi yang lebih diutamakan adalah mempelajari dengan membaca kitab-kitab arab klasik dengan standar buku-buku pelajaran sekolah agama rendah di Mesir. Pendekatan pelaksanaan pendidikan tersebut tidak diiringi dengan belajar menulis secara maksimal. Akibatnya banyak di antara teman-teman Hamka yang fasih membaca kitab, akan tetapi tidak bisa menulis dengan baik. Meskipun tidak puas dengan sistim pendidikan waktu itu, namun ia tetap mengikutinya dengan seksama. Di antara metode yang digunakan guru-gurunya, hanya metode pendidikan yang digunakan Engku Zainuddin Labay el-Yunusy yang menarik hatinya. Pendekatan yang dilakukan Engku Zainuddin, bukan hanya mengajar (transfer of knowledge), akan tetapi juga melakukan proses mendidik (transformation of value). Melalui Diniyyah School Padang Panjang yang didirikannya, ia telah memperkenalkan bentuk lembaga pendidikan Islam modern dengan menyusun kurikulum pendidikan yang lebih sistematis, memperkenalkan sistem pendidikan klasikal dengan menyediakan kursi dan bangku tempat duduk siswa, menggunakan buku-buku di luar kitab standar, serta memberkan ilmu-ilmu umum seperti, bahasa, matematika, sejarah dan ilmu bumi.[11]
Wawasan Engku Zainuddin yang demikian luas, telah ikut membuka cakrawala intelektualnya tentang dunia luar. Bersama dengan Engku Dt. Sinaro, Engku Zainuddin memiliki percetakan dan perpustakaan sendiri dengan nama Zinaro. Pada awalnya, ia hanya diajak untuk membantu melipat-lipat kertas pada percetakan tersebut. Sambil bekerja, ia diijinkan untuk membaca buku-buku yang ada di perpustakaan tersebut. Di sini, ia memiliki kesempatan membaca bermacam-macam buku, seperti agama, filsafat dan sastra. Melalui kemampuan bahasa sastra dan daya ingatnya yang cukup kuat, ia mulai berkenalan dengan karya-karya filsafat Aristoteles, Plato, Pythagoras, Plotinus, Ptolemaios, dan ilmuan lainnya. Melalui bacaan tersebut, membuat cakrawala pemikirannya semakin luas.[12]
Meski tidak mempunyai latar belakang pendidikan formal yang terbilang tinggi, namun Hamka berhasil menjadi seorang ulama yang berhasil. Hal ini berkat ketekunannya dalam belajar secara otodidak. Ia sangat rajin dalam membaca kitab-kitab klasik yang ia temukan, baik itu di toko buku, maupun di perpustakaan-perpustakaan.
Hamka mulai meninggalkan kampung halamannya untuk menuntut ilmu di Pulau Jawa, sekaligus ingin mengunjungi kakak iparnya, Ahmad Rasyid Sutan Mansur yang tinggal di Pekalongan, Jawa Tengah. Untuk itu, Hamka kemudian ditumpangkan dengan Marah Intan, seorang saudagar Minangkabau yang hendak ke Yogyakarta. Sesampainya di Yogyakarta, ia tidak langsung ke Pekalongan. Untuk sementara waktu, ia tinggal bersama adik ayahnya, Ja’far Amrullah di kelurahan Ngampilan, Yogyakarta. “Barulah pada tahun 1925, ia berangkat ke Pekalongan, dan tinggal selama enam bulan bersama iparnya, Ahmad Rasyid Sutan Mansur”.[13]
Februari 1927 Buya Hamka berangkat ke Mekah untuk menunaikan ibadah haji serta menuntut ilmu agama di sana, beliau sempat bermukim di Mekah selama 6 bulan dan pernah bekerja pada sebuah tempat percetakan. Juli 1927 Hamka telah kembali dari Mekah. Menurut kebiasaan pada masa itu bila seseorang telah kembali dari Mekah setelah menunaikan ibadah Haji, pandangan terhadap dirinya sudah berbeda dan lebih tinggi. Apabila ada jamuan, orang yang sudah menunaikan ibadah Haji duduk di tempat terhormat yang sudah disediakan bersama imam atau khatib dan juga alim ulama.
Pada tanggal 5 April 1929, Hamka dinikahkan dengan Siti Raham binti Endah Sutan, yang merupakan anak dari salah satu saudara laki-laki ibunya. Dari perkawinannya dengan Siti Raham, ia dikaruniai 11 orang anak. Mereka antara lain Hisyam, Zaky, Rusydi, Fakhri, Azizah, Irfan, Aliyah, Fathiyah, Hilmi, Afif, dan Syakib. Setelah istrinya meninggal dunia, satu setengah tahun kemudian, tepatnya pada tahun 1973, ia menikah lagi dengan seorang perempuan bernama Hj. Siti Khadijah. Menjelang akhir hayatnya ia mengangkat Jusuf Hamka, seorang muallaf, peranakan Tionghoa-Indonesia sebagai anak.[14]
Hamka adalah seorang otodidak dalam berbagai bidang ilmu pengetahuan seperti filsafat, sastra, sejarah, sosiologi dan politik, baik Islam maupun Barat. Dengan kemahiran bahasa Arabnya yang tinggi, beliau dapat menyelidiki karya ulama dan pujangga besar di Timur Tengah seperti Zaki Mubarak, Jurji Zaidan, Abbas Al-Aqqad, Mustafa Al-Manfaluti dan Hussain Haikal. Melalui bahasa Arab juga beliau meneliti karya sarjana Perancis, Inggris dan Jerman seperti Albert Camus, William James, Sigmund Freud, Arnold Toynbee, jean Paul Sartre, Karl Marx dan Pierre Loti. Hamka juga rajin membaca dan bertukar-tukar pikiran dengan tokoh-tokoh terkenal Jakarta, seperti H.O.S.Tjokroaminoto, Raden Mas Surjoparonoto, Haji Fachrudin, AR. Sutan Mansur dan Ki Bagus Hadikusumo.
Modal Hamka yang utama sebagai seorang intelektual-otodidak adalah keberanian dan ketekunan. Karena dedikasinya di bidang dakwah, pada tahun 1960 Universitas Al-Azhar Cairo menganugerahkan Doktor Honoris Causa kepada Hamka yang membawakan pidato ilmiah berjudul "Pengaruh Ajaran dan Pikiran Syekh Mohammad Abduh di Indonesia". [15]
Kemudian, dari Universiti Kebangsaan Malaysia (UKM), Hamka memperoleh Doktor Honoris Causa (Doktor Persuratan) yang pengukuhannya tahun 1974 dihadiri Perdana Menteri Tun Abdul Razak. Semasa hidupnya dalam kapasitas sebagai Guru Besar yang dikukuhkan oleh Universitas Islam Indonesia (UII) Yogyakarta dan Universitas Prof. Dr. Moestopo Beragama, Jakarta, Hamka sering memberi kuliah di berbagai perguruan tinggi. Demikian pula ceramah dakwah Hamka melalui Kuliah Subuh RRI Jakarta dan Mimbar Agama Islam TVRI diminati jutaan masyarakat Indonesia masa itu.[16]
Hamka menjabat Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia (MUI) pertama tahun 1975 sampai 1981 selama dua priode.[17] Dia berhasil membangun citra MUI sebagai lembaga independen dan berwibawa untuk mewakili suara umat Islam. Hamka menolak mendapat gaji sebagai Ketua Umum MUI. Mantan Menteri Agama H.A. Mukti Ali mengatakan, "Berdirinya MUI adalah jasa Hamka terhadap bangsa dan negara. Tanpa Buya, lembaga itu tak akan mampu berdiri. Di tengah kepengurusan keduanya, Hamka meletakkan jabatan sebagai Ketua Umum MUI. Hal ini disebabkan sebagai Ketua Umum MUI Hamka menolak permintaan Pemerintah untuk mencabut fatwa MUI yang mengharamkan umat Islam mengikuti acara perayaan  Natal. Sebagai seorang ulama Hamka tidak bisa melakukan kompromi dengan siapa pun mengenai akidah.[18]
Buya Hamka meninggal pada hari jum’at tanggal 24 Juli 1981 di usianya yang ke 73 tahun dengan tenang dan disaksikan oleh anak cucu serta kerabat karibnya.[19]
Setelah meninggal dunia, Hamka mendapat Bintang Mahaputera dari pemerintah RI di tahun 1986. Dan pada tanggal 9 November 2011 Hamka dinyatakan sebagai Pahlawan Nasional Indonesia setelah dikeluarkannya Keppres No. 113/TK/Tahun 2011.[20] Hamka merupakan salah satu orang Indonesia yang paling banyak menulis dan menerbitkan buku. Oleh karenanya ia dijuluki sebagai Hamzah Fansuri di era modern.[21]

B.     Karya-KaryaHamka
Sebagai seorang yang berpikiran maju, tidak hanya ia lakukan di mimbar melalui berbagai berbagai macam ceramah agama. Ia juga merefleksikan kemerdekaan berpikirnya melalui berbagai macam karyanya dalam bentuk tulisan. Orientasi pemikirannya meliputi berbagai disiplin ilmu, seperti teologi, tasawuf, filsafat, pemikiran pendidikan Islam, sejarah Islam, fiqih, sastra dan tafsir. Bahkan, meskipun dalam waktu relatif singkat ia juga pernah terlihat dalam politik praktis. Melihat sepak terjangnya yang demikian dinamis, secara lugas Hadler mengungkapkan bahwa Hamka merupakan sosok multidimensi dan sekaligus terkadang kontroversial.[22] Dalam rentang waktu lebih kurang 57 tahun konsistensinya di bidang jurnalistik sejauh yang mampu penulis cetak, ia melahirkan puluhan buku dan artikel lepas yang dimuatnya dibeberapa surat kabar atau majalah, terutama majalah Panji Masyarakat.[23]
Berikut di antara beberapa buku karangan Hamka:
  1. Kenang-Kenangan Hidup, 4 Jilid, Jakarta: Bulan Bintang, 1979.
  2. Ayahku (Riwayat Hidup Dr. H. Abdul Karim Amrullah dan Perjuangannya), Jakarta: Pustaka Wijaya, 1958.
  3. Khatib al-Ummah, 3 Jilid, Padang Panjang, 1925.
  4. Islam dan Adat, Padang Panjang: Anwar Rasyid, 1929.
  5. Kepentingan Melakukan Tabligh, Padang Panjang: Anwar Rasyid, 1929.
  6. Majalah Tentera, 4 nomor, Makassar, 1932.
  7. Majalah al-Mahdi, 9 nomor, Makassar, 1932.
  8. Bohong di Dunia, cet. 1, Medan: Cerdas, 1939.
  9. Agama dan Perempuan, Medan: Cerdas, 1939.
  10. Pedoman Mubaligh Islam, cet. 1, Medan: Bukhandel Islamiah, 1941.
  11. Majalah Semangat Islam, 1943.
  12. Majalah Menara, Padang Panjang, 1946.
  13. Hikmat Isra’ Mi’raj, 1946 (tempat dan penerbit tidak diketahui).
  14. Negara Islam, 1946 (tempat dan penerbit tidak diketahui),
  15. Islam dan Demokrasi, 1946 (tempat dan penerbit tidak diketahui),
  16. Revolusi Fikiran, 1946 (tempat dan penerbit tidak diketahui),
  17. Dibandingkan Ombak Masyarakat, 1946 (tempat dan penerbit tidak diketahui),
  18. Muhammadiyah Melalui Tiga Zaman, Padang Panjang: Anwar Rasyid, 1946.
  19. Revolusi Agama, Padang Panjang: Anwar Rasyid, 1946.
  20. Sesudah Naskah Renville, 1947 (tempat dan penerbit tidak diketahui).
  21. Tinjauan Islam Ir. Soekarno, Tebing Tinggi, 1949.
  22. Pribadi, 1950 (tempat dan penerbit tidak diketahui).
  23. Falsafah Hidup, cet. 3, Jakarta: Pustaka Panji Masyarakat, 1950.
  24. Falsafah Ideologi Islam, Jakarta: Pustaka Wijaya, 1950.
  25. Urat Tunggang Pancasila, Jakarta: Keluarga, 1951.
  26. Pelajaran Agama Islam, Jakarta: Bulan Bintang, 1952.
  27. K.H. A. Dahlan, Jakarta: Sinar Pujangga, 1952.
  28. Perkembangan Tashawwuf dari Abad ke Abad, cet. 3, Jakarta: Pustaka Islam, 1957.
  29. Pribadi, Jakarta: Bulan Bintang, 1959.
  30. Pandangan Hidup Muslim, Jakarta: Bulan Bintang, 1962.
  31. Lembaga Hidup, cet. 6, Jakarta: Jayamurni, 1962 (kemudian dicetak ulang di Singapura oleh Pustaka Nasional dalam dua kali cetakan, pada tahun 1995 dan 1999).
  32. 1001 Tanya Jawab tentang Islam, Jakarta: CV. Hikmat, 1962.
  33. Cemburu, Jakarta: Firma Tekad, 1962.
  34. Angkatan Baru, Jakarta: Hikmat, 1962.
  35. Ekspansi Ideologi, Jakarta: Bulan Bintang, 1963.
  36. Pengaruh Muhammad Abduh di Indonesia, Jakarta: Tintamas, 1965 (awalnya merupakan naskah yang disampakannya pada orasi ilmiah sewaktu menerima gelar Doktor Honoris Causa dari Universitas al-Azhar Mesir, pada 21 Januari 1958).
  37. Sayyid Jamaluddin al-Afghani, Jakarta: Bulan Bintang, 1965.
  38. Lembaga Hikmat, cet. 4, Jakarta: Bulan Bintang, 1966.
  39. Dari Lembah Cita-Cita, cet. 4, Jakarta: Bulan Bintang, 1967.
  40. Hak-Hak Azasi Manusia Dipandang dari Segi Islam, Jakarta: Bulan Bintang, 1968.
  41. Gerakan Pembaruan Agama (Islam) di Minangkabau, Padang: Minang Permai, 1969.
  42. Hubungan antara Agama dengan Negara menurut Islam, Jakarta: Pustaka Panjimas, 1970.
  43. Islam, Alim Ulama dan Pembangunan, Jakarta: Pusat dakwah Islam Indonesia, 1971.
  44. Islam dan Kebatinan, Jakarta: Bulan Bintang, 1972.
  45. Mengembalikan Tasawuf ke Pangkalnya, Jakarta: Pustaka Panjimas, 1973.
  46. Beberapa Tantangan terhadap Umat Islam di Masa Kini, Jakarta: Bulan Bintang, 1973.
  47. Kedudukan Perempuan dalam Islam, Jakarta: Pustaka Panjimas, 1973.
  48. Muhammadiyah di Minangkabau, Jakarta: Nurul Islam, 1974.
  49. Tanya Jawab Islam, Jilid I dan II cet. 2, Jakarta: Bulan Bintang, 1975.
  50. Studi Islam, Aqidah, Syari’ah, Ibadah, Jakarta: Yayasan Nurul Iman, 1976.
  51. Perkembangan Kebatinan di Indonesia, Jakarta: Yayasan Nurul Islam, 1976.
  52. Tasawuf, Perkembangan dan Pemurniannya, cet. 8, Jakarta: Yayasan Nurul Islam, 1980.
  53. Ghirah dan Tantangan Terhadap Islam, Jakarta: Pustaka Panjimas, 1982.
  54. Kebudayaan Islam di Indonesia, Jakarta: Pustaka Panjimas, 1982.
  55. Lembaga Budi, cet. 7, Jakarta: Pustaka Panjimas, 1983.
  56. Tasawuf Modern, cet. 9, Jakarta: Pustaka Panjimas, 1983.
  57. Doktrin Islam yang Menimbulkan Kemerdekaan dan Keberanian, Jakarta: Yayasan Idayu, 1983.
  58. Islam: Revolusi Ideologi dan Keadilan Sosial, Jakarta: Pustaka Panjimas, 1984.
  59. Iman dan Amal Shaleh, Jakarta: Pustaka Panjimas, 1984.
  60. Renungan Tasawuf, Jakarta: Pustaka Panjimas, 1985.
  61. Filsafat Ketuhanan, cet. 2, Surabaya: Karunia, 1985.
  62. Keadilan Sosial dalam Islam, Jakarta: Pustaka Antara, 1985.
  63. Tafsir al-Azhar, Juz I sampai Juz XXX, Jakarta: Pustaka Panjimas, 1986.
  64. Prinsip-prinsip dan Kebijaksanaan Dakwah Islam, Jakarta: Pustaka Panjimas, 1990.
  65. Tuntunan Puasa, Tarawih, dan Idul Fitri, Jakarta: Pustaka Panjimas, 1995.
  66. Adat Minangkabau Menghadapi Revolusi, Jakarta: Tekad, 1963.
  67. Islam dan Adat Minangkabau, Jakarta: Pustaka Panjimas, 1984.
  68. Mengembara di Lembah Nil, Jakarta: NV. Gapura, 1951.
  69. Di Tepi Sungai Dajlah, Jakarta: Tintamas, 1953.
  70. Mandi Cahaya di Tanah Suci, Jakarta: Tintamas, 1953.
  71. Empat Bulan di Amerika, 2 Jilid, Jakarta: Tintamas, 1954.
  72. Merantau ke Deli, cet. 7, Jakarta: Bulan Bintang, 1977 (ditulis pada tahun 1939).
  73. Si Sabariah (roman dalam bahasa Minangkabau), Padang Panjang: 1926.
  74. Laila Majnun, Jakarta: Balai Pustaka, 1932.
  75. Salahnya Sendiri, Medan: Cerdas, 1939.
  76. Keadilan Ilahi, Medan: Cerdas, 1940.
  77. Angkatan Baru, Medan: Cerdas, 1949.
  78. Cahaya Baru, Jakarta: Pustaka Nasional, 1950.
  79. Menunggu Beduk Berbunyi, Jakarta: Firma Pustaka Antara, 1950.
  80. Terusir, Jakarta: Firma Pustaka Antara, 1950.
  81. Di Dalam Lembah Kehidupan (kumpulan cerpen), Jakarta: Balai Pustaka, 1958.
  82. Di Bawah Lindungan Ka'bah, cet. 7, Jakarta: Balai Pustaka, 1957.
  83. Tuan Direktur, Jakarta: Jayamurni, 1961.
  84. Dijemput Mamaknya, cet. 3, Jakarta: Mega Bookstrore, 1962.
  85. Cermin Kehidupan, Jakarta: Mega Bookstrore, 1962.
  86. Tenggelamnya Kapal Van der Wijck, cet. 13, Jakarta: Bulan Bintang, 1979.
  87. Pembela Islam (Tarikh Sayyidina Abubakar Shiddiq), Medan: Pustaka Nasional, 1929.
  88. Ringkasan Tarikh Ummat Islam, Medan: Pustaka Nasional,1929.
  89. Sejarah Islam di Sumatera, Medan: Pustaka Nasional, 1950.
  90. Dari Perbendaharaan Lama, Medan: M. Arbi, 1963.
  91. Antara Fakta dan Khayal Tuanku Rao, cet. 1, Jakarta: Bulan Bintang, 1974.
  92. Sejarah Umat Islam, 4 Jilid, Jakarta: Bulan Bintang, 1975.
  93. Sullam al-Wushul; Pengantar Ushul Fiqih (terjemahan karya Dr. H. Abdul Karim Amrullah), Jakarta: Pustaka Panjimas, 1984.
  94. Margaretta Gauthier (terjemahan karya Alexandre Dumas), cet. 7, Jakarta: Bulan Bintang, 1975.[24]
C.    Keadaan Sosiokultural Kehidupan Hamka
Sebelum masuknya Islam di Minangkabau, masyarakat Minangkabau merupakan komunitas yang sangat kuat memelihara dan memegang teguh nilai-nilai adat. Nilai-nilai tersebut demikian mengkristal dan sangat mewarnai berbagai bentuk interaksi sosial serta pandangan hidup mereka. Ketika Islam masuk dan berkembang di Minangkabau, kehadiran Islam diterima dengan sangat terbuka. Meskipun demikian, masih dijumpai beberapa praktik adat yang bertentangan dengan ajaran agama. Fenomena ini dapat dilihat dengan masih banyak praktik ibadah yang berbaur dengan adat dan kepercayaan tradisional yang tetap mereka pertahankan.
Di antara kepercayaan tradisional yang masih melembaga adalah kepercayaan terhadap kekuatan hantu dan arwah yang merupakan warisan dari tradisi megalitikum, melakukan kenduri arwah pada bilangan malam tertentu, mandi syafar yang diyakini  bisa membuang sial dan lain sebagainya. Hamka berpendapat, amalan seperti itu pada hakikatnya merupakan peninggalan paham animisme dan dinamisme. Paham yang demikian mempunyai hubungan dengan amalan  agama Hindu. Oleh karena itu amalan seperti itu jelas-jelas bertentangan dengan ajaran Islam dan perlu segera ditinggalkan.[25]
Suasana keagamaan yang demikian terlah berlangsung lama di Indonesia, merupakan zaman kegelapan yang terjadi antara rentang waktu  akhir abad XIX sampai dengan awal abad XX. Di Minangkabau pada saat itu sedang bergejolak,  karena ketidak sepahaman atau berbeda pandangan dan mazhab yang dianut antara kaum tua dan kaum muda. Kaum muda pada umumnya lebih terpengaruh pada paham Wahabi yang berkembang di Mesir. Sementara kaum tua menganut paham yang berasal dari Mekkah yang kemudian bercampur dengan adat, khurafat, takhayul dan bid’ah. Melihat fenomena pemahaman umat yang demikian, maka kaum muda berupaya terkadang secara keras melakukan serangkaian usaha untuk menyadarkan dan meluruskan pemahaman umat Islam kepada ajaran Islam yang kaffah melalui berbagai pendekatan.[26]
Di samping masalah agama karena tidak sepahaman antara kaum muda dan kaum tua, kondisi ini juga lebih diperparah dengan kebijakan pendidikan belanda yang kurang mendukung, terutama dengan diberlakukannya ordonansi yang ketat terhadap pelaksanaan terhadap pelaksanaan pendidikan bagi Bumiputra. Kebijakan tersebut diambil karena timbulnya kekhawatiran akan tumbuhnya militansi kaum terpelajar dari kalangan rakyat Indonesia yang akan menggoyah eksistensinya di nusantara.[27]
Berpijak pada kenyataan tersebut, Hamka berpendapat sebagaimana yang dikutip Ma’arif paling tidak ada tiga faktor yang mendorong lahirnya pergerakan pembaharuan umat Islam di Indonesia, yaitu pertama, akibat keterbelakangan dan kebodohan umat Islam Indonesia dalam hampir seluruh aspek kehidupan. Kedua, akibat kondisi tersebut sebagai bias politik kolonial mengakibatkan suasana kemiskinan yang demikian parah telah menipa umat Islam di negerinya sendiri. Ketiga, kondisi pendidikan Islam yang sangat tradisional (kuno).[28]
 Dalam suasana  yang demikian Hamka dilahirkan, sedikit banyaknya mempengaruhi kehidupan Hamka, karena banyak ditemui dalam buku-buku yang dikaranngya ataupun dalam kesehariannya yang kebiasaannya berbeda dengan anak-anak lain pada umumnya. Di antaranya bakatnya sebagai “pemberontak”, ia bukan hanya bandel, tapi mungkin juga sedikit “preman” hobinya di waktu remaja mencakup adu ayam, jadi joki dalam pacuan kuda, dan suka “petantang petenteng”. Meskipun ayahnya mengirimnya belajar ke sekolah rakyat dan sekolah agama ke beberapa surau, seperti surau Parabek yang diasuh Syeikh Ibrahim Musa, dan lebih khusus lagi di surau ayahnya yang kemudian berkembang menjadi Sumatera Thawalib, tetapi kebandelannya tetap menonjol.[29]
Menurut Hadler yang membuat Hamka demikian, seperti yang dituturkan Hamka sendiri dalam Kenang-Kenangan Hidup, mengungkapkan tema tragis: gangguan masa kecil dan hilangnya rumah yang nyaman bagi masa kecil. Puncak dari tema tragis adalah perceraian kedua orang tuanya pada tahun 1920 perceraian itu terjadi karena perbedaan pandangan persoalan agama. di pihak ayahnya adalah seorang pemimpin agama yang radikal, sedangkan di pihak ibunya adalah pemegang adat yang asangat kental seperti berzanji, randai, pencak, menyabung ayam dan sebagainya. Hamka menyatakan perceraian tersebut merupakan “klimaks” yang menentukan perjalanan hidupnya.[30]
Sikap Hamka kepada ayahnya bisa dikatakan bercabang dua, satu sisi Hamka mengagumi ayahnya karena keulamaannya. Tetapi dari sisi lain, Hamka tidak menyembuyikan kegusarannya kepada sang ayah yang pekerjaannya “cuma” kawin cerai, sehinggga sampai memiliki 8 istri dan 46 anak, Hamka merasa ayahnya telah mengkhianati ibunya, ketika sang ayah menceraikan ibunya. Dan Hamka memandang bahwa “pengkhianatan” sang ayah itu disebabkan karena ia “terlalu patuh” kepada adat Minangkabau. Sebagaimana yang dikatakan DR. Abdul Karim Amrullah di tanah pembuangannya, seketika dekat saat wafatnya: “adatlah yang mengorbankan saya!” dan setelah beliau terbuang, di hari tuanya yang tinggal tiga tahun itu, waktu itulah dunia Indonesia tahu betul siapa dia. Alangkah banyaknya kerugian tanah air, selama beliau di tanah adat.[31]
Selain kepribadian Hamka yang demikian, beliau juga merupakan tipikal orang yang teguh pendirian, sebagaimana yang terjadi ketika Hamka menjabat sebagai ketua MUI, pada masa jabatannya MUI mengeluarkan fatwa mengharamkan umat Islam mengikuti acara perayaan Natal. Lantas pemerintah memerintahkan untuk mencabut fatwa tersebut, Hamka menolak karena sebagai seorang ulama tidak bisa melakukan kompromi dengan siapapun mengenai akidah. Ini akidah sesuatu yang harus dipertanggung jawabkan oleh seorang muslim di hadapan Allah, sehingga tidak bisa dicampuradukkan dengan kebijakan apa pun termasuk politik.[32]



[1] Samsul Nizar, Memperbincangkan Dinamika Intelektual dan Pemikiran Hamka tentang Pendidikan Islam, (Jakarta : Kencana,  2008),  h.15
[2]A. Susanto, Pemikiran Pendiidkan Islam, (Jakarta: Amzah, 2010),  h.100
[3] Hamka, Taasauf Modern, (Jakarta: PT. Pustaka Panjimas, 1990), h.9
[4]Shobahussurur, Mengenang 100 Tahun Haji Abdul Malik Karim Amrullah (Hamka), (Jakarta.Yayasan Pesantren Islam Al-Azhar. 2008), h 17
[5]Yusuf, M. Yunan Corak Pemikiran Kalam Tafsir al-Azhar. (Jakarta: Penamadani, 2003). h. 40
[6]Shobahussurur, loc. cit
[7] Samsul Nizar, op.cit, h .18
[8]Ibid.
[9] Samsul Nisar, op.cit, h.19
[10] Hamka, Kenang-kenangan Hidup, Jilid I cet. III, (Jakarta: Bulan Bintang,1974), h. 68-72
[11]Samsul Nizar, op.cit,  h. 21-22
[12]Ibid,  h. 22-23
[13]Mohammad Herry.Tokoh-Tokoh Islam Yang Berpengaruh Abad 20. (Jakarta: Gema Insani, 2006), h.
[14] http://uniknya.com/2015/03/obituari-24-juli-hamka, diunduh pada tanggal 24 Maret 2015 di Simpang Empat pada pukul 09.30
[15] Azyumardi Azra, Historiografi Islam Kontemporer, (Jakarta : PT. Gramedia Pustaka Utama, 2002), h. 271
[16] Ibid, h.279
[17] Ibid, h.283
[18] Irfan Hamka,  Ayah...(Jakarta: Republika Penerbit, 2013),  h. 273
[19]Rusydi Hamka, Pribadi dan Martabat Buya Prof. Dr. Hamka, (Jakarta: Pustaka Panjimas, 1983), h. 230
[20] Irfan Hamka, op.cit, h. 290
[21] Muhammad Ahmad As-Sambaty, Kenang-Kenangan 70 Tahun Buya Hamka, (Jakarta: Pustaka Panjimas, 1983), h. 15.
[22]Azyumardi Azra, op.cit, h. 260
[23] Samsul Nizar, op.cit,  h. 47
[24]http:// Wikipedia bahasa Indonesia, Haji Abdul Malik Karim Amrullah, ensiklopedia bebas. diunduh di Simpang Empat pada tanggal 24 Maret 2015, pukul 09.45
[25] Samsul Nizar, op.cit,  h. 64
[26] Ibid,
[27] Ibid, h. 66-67
[28] Ibid, h, 69-70
[29] Azyumardi Azra, op.cit, h.265
[30] Ibid, h.267
[31] Hamka, Islam dan Adat Minangkabau, (Jakarta: Pustaka Panjimas, 1984),  h.46
[32] Irfan Hamka, op.cit, h. 273

Tidak ada komentar:

Posting Komentar